Tinta Emas untuk Sejarah Perdamaian Bonek-Aremania


Dalam beberapa dekade terakhir, sudah menjadi keputusan yang lumrah dikeluarkan

petugas keamanan dalam hal ini polisi untuk memblokade gelombang suporter

sepakbola saat terjadi pertandingan super big match di Indonesia, khususnya

suporter tim tamu.

Alasannya, untuk menjaga ketertiban, kelancaran dan keamanan pertandingan atau

kota. Misalnya saja pertandingan Arema Vs Persebaya, Persebaya Vs Persela, Persija

Vs Persib Bandung serta beberapa pertandingan penuh gengsi lainnya yang berlatar

belakang kurang mengenakan bagi suporter kedua tim.

Sudah jelas, pada partai-partai tersebut, suporter tim tamu akan mendapat himbauan

keras agar tidak hadir di kota tim tuan rumah, apalagi sampai di stadion. Kalau

tidak, jelas akan rawan aksi brutal atau anarkis yang sulit dikendalikan pihak

keamanan. Apalagi, budaya dan tingkat kedewasaan suporter Indonesia terbilang

masih sangat rendah dalam menerima hasil pertandingan yang berakhir pahit.

Tapi saya heran, pada beberapa pertandingan-pertandingan big match lainnya yang

juga mempertemukan dua tim kuat, dengan dukungan suporter kedua tim yang juga

terkenal fanatik, masih ada yang bisa happy ending alias lancar, tertib, damai

bahkan jauh dari kesan anarkis.

Misalnya saja pertandingan Arema melawan Persela Lamongan, Arema melawan Persija

dan Persebaya melawan Persik Kediri. Meski berlangsung keras, toh pertandingan

tersebut bisa berjalan lancar tanpa ada kendala yang berarti. Bahkan, suporter

kedua tim juga tampak damai, saling berangkulan di dalam stadion dalam mendukung

tim kesayangannya.

Nah, hanya suporter yang memiliki tingkat kedewasaan tinggi saja yang ingin

merubah budaya benci menjadi kedamaian. Dan saya lihat, sebenarnya semua suporter

memiliki potensi itu. Potensi merubah budaya kebencian menjadi perdamaian.

Sebab sampai saat ini, pendukung Persebaya alias Bonek yang terkenal keras,

bersama pendukung Persib alias Viking, Persekabpas alias Sakeramania dan

Persikmania (pendukung Persik Kediri), masih tetap harmonis dan terjaga. Begitu

juga Aremania bersama The Jak, LA Mania.

Memang, awal kebencian beberapa suporter dipicu akibat sejarah kelam kedua tim

saat bertanding away sehingga berkesinambungan di laga-laga selanjutnya. Perlakuan

yang kurang memiliki kesan damai, baik kepada tim maupun suporter, menjadi faktor

aksi balas dendam.

Tapi kalau boleh jujur, saya juga sependapat dalam tulisan tentang “Ini Resep

Mendamaikan Suporter Jatim” oleh Oryza A. Wirawan pada tanggal 4 Januari lalu

bahwa tidak ada manfaat lebih bagi daerah masing-masing dari perseteruan suporter

jika kebanggaan itu berakhir dengan sifat yang destruktif.

Malahan, dalam hal ini klub sudah pasti akan merasa dirugikan akibat sanksi.

Akibatnya, klub akan mengeluarkan anggaran lebih untuk membayar denda. Belum lagi,

klub juga akan dikenai denda larangan main di kandang sendiri di laga selanjutnya

atau bermain tanpa penonton. Tentunya, selain mengeluarkan biaya lebih, klub juga

terancam tidak akan mendapat pemasukan dari hasil penjualan tiket penonton.

Nah, berkaca dari itu semua. Saya yakin, dari dalam hati semua suporter Indonesia

yang paling dalam, juga memiliki cita-cita perdamaian, menghentikan perselisihan

dengan melupakan sejarah kelam.

Dan untuk membuka lembaran baru sejarah perjalanan suporter Indonesia itu, momen

yang paling tepat adalah pada laga super big match antara Persebaya melawan Arema

Malang pada Sabtu (16/1/2010) lusa di Stadion Gelora 10 November.

Perdamaian kedua suporter yang terkenal tak akur selama ini, pantas menjadi

tonggak kebangkitan suporter Indonesia. Bahkan, cukup layak menjadi catatan tinta

emas sejarah sepakbola Indonesia. Dan dari kebangkitan ini, Insya Allah kedatangan

suporter untuk mendampingi tim kesayangannya ke daerah lain, kedepan tidak akan

diharamkan lagi.

Memang, mengkoordinir puluhan ribu massa tidak bisa seperti membalik telapak

tangan. Apalagi di tingkat elemen terbawah yang memang sulit dikendalikan. Dan

kali ini, saya ingin mengambil contoh dari apa yang sudah dilakukan beberapa

suporter yang hingga kini masih bersahabat dan harmonis tanpa mengurangi

kaidah-kaidah dalam tulisan “Ini Resep Mendamaikan Suporter Jatim”.

Ya, pada dasarnya. Bentuk silaturahmi dan perjamuan antar suporter menurut saya

bisa melebur kebencian menjadi persaudaraan. Kita ambil contoh saja, ketika Bonek

ke Bandung, mereka juga mendapat sambutan luar biasa dari suporter Bandung alias

Viking, meski lawan yang dihadapi bukan tim kebanggaannya. Mulai lokasi menginap

dan konsumsi juga disediakan selama mereka di Bandung. Dan itu juga terjadi

sebaliknya saat Viking berada di Surabaya.

Nah, kalau bisa meniru hal itu, tidak mustahil pada laga Persebaya melawan Arema,

Aremania bisa hadir di Gelora 10 November ataupun sebaliknya Bonek di Kanjuruhan.

Teknisnya pada langkah awal, kuota suporter yang hadir juga tidak boleh lebih dari

100 orang, mengingat kapasitas stadion dengan fanatisme penonton. Lalu, budaya

menyambut kedatangan suporter yang telah terkoordinir hingga penjamuan di markas

suporter tim tuan rumah bisa menjadi tradisi baru demi rasa persaudaraan.

Selain itu, hal ini juga bisa memberi kesan segan bagi suporter tamu jika mereka

hendak berbuat ulah. Bahkan, ini juga melatih suporter mana pun agar selalu

terkoordinir.

Kalaupun ada suporter yang tidak terkoordinir datang, sesuai kesepakatan, tidak

akan ada jaminan keamanan bagi suporter yang dianggap liar. Bahkan, soal hal ini

petugas keamanan bisa memulangkan jika terbukti bukan diantara 100 orang suporter

seperti dalam kuota.

Nah, saya menyarankan, Bonek yang dulu terkenal dengan Bondo Nekat kini berganti

Bondo dan Nekat, pantas disebut sebagai pelopor misi perdamaian ini jika bisa

memberikan sambutan kepada Aremania yang ingin datang ke Surabaya dalam laga super

big match nanti.

Tidak ada salahnya Bonek mengubur sejarah kelam demi meraih simpati saat akan

datang ke Malang nanti pada laga away Persebaya. Mulai penyambutan sejak

perbatasan masuk Kota Surabaya, penjamuan di markas Bonek hingga keberangkatan

secara bersama-sama ke stadion akan menjadi pertunjukkan yang layak mendapat

acungan empat jempol.

Di dalam stadion, selain hijau, juga ada biru. Nyanyian suporter pun saling sahut

menyahut, tanpa ada unsur provokatif. Dan ini tentu saja tidak untuk Bonek saja,

tapi saat Persebaya tandang ke Malang, Aremania juga wajib melakukan hal serupa.

Istilahnya, bertamu harus ijin tuan rumah. Sebaliknya, sebagai tuan rumah, layak

memberikan jamuan yang sepantasnya. Apalagi, dari segi geografis, Bonek dan

Aremania adalah sama-sama suporter Jatim.

FIFA selalu mengkampanyekan sikap respect alias menghargai dalam setiap even dan

pertandingan. Jadi, tidak ada salahnya kita juga bisa menghargai satu sama lain,

khususnya sesama suporter.

Saya bukan Bonek dan saya juga bukan Aremania, tapi saya ingin melihat dua

suporter paling fanatik di Indonesia ini bisa berdamai, duduk bersama dan

menghijau-birukan stadion. Begitu juga dengan suporter lain, Aremania dan

Sakeramania bersatu, Aremania dan Persikmania bersatu, Aremania dan Viking

bersatu, Bonek dan LA mania bersatu, Bonek dan The Jak bersatu serta Viking dan

The Jak bersatu.

Bahkan saya yakin, perdamaian Bonek dan Aremania dalam arti sesungguhnya, akan

menjadi panutan suporter lain yang butuh banyak belajar dari Bonek dan Aremania.

Damailah suporter Indonesia!.

[sya/kun]beritajatim.com

4 Responses to “Tinta Emas untuk Sejarah Perdamaian Bonek-Aremania”


  1. 1 Raden_maz 8 f 10 pukul 10:52 pm

    arema & bonek harus bisa damai, buat dukung Indonesia jadi Tuan rumah Piala Dunia,,,,,,, tunjukkan pada Dunia,,,, “Indonesia Bisa”

  2. 3 sopian 2 f 11 pukul 4:46 am

    berdamailah suporter indonesia,,

    Viking the jak,bonek aremania nj mania pasoepati brjamusti slemania lamania

    Mari kita dukung indonesia kita untuk menjadi sang juara..tekad kan hatimu dalam merah putih..

    Bravo suporter seluruh indonesia mari kita bersatu jangan ada bontok2kan lagi..bravo

  3. 4 ari snex 13 f 13 pukul 7:31 am

    SNEX ,gc bza damai,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




ngobrol sambil ngopi….

kategori

Blog Stats

  • 144,005 hits

special blog

info Pandaan lengkap

asyiik!!

free counters

%d blogger menyukai ini: